Selasa, 17 Februari 2015

Palembang invansion (part3)

Setelah kita keluar dari stadion jakabaring, saya dan ke2 teman saya merasakan kebahagyaan yg tiada tara. Kebahagyaan yg tdk mampu diungkapkan. Emosi jiwa emosi ungkapan rasa tulus itu keluar. Bahkan tiap tetesan2 air mata yg saya berikan adalah luapan kemustahilan yg dimenangkan persib melawan arema . kami semua menuju bis masing2 dan berencana pulang. Tetapi ketika diperjalanan ada informasi bahwa persib akan menggelar final dengan persipura di jakabaring kembali. Semua bis berangkat pulang ke bdg dan akan balik lagi setelahnya untuk menonton laga final. Tetapi. saya berpikir ulang untuk kembali lagi ke bdg. Saya pikir itu akan buang2 waktu. Dan mungkin saya tidak dpat kembali lagi ke palembang dngan uang yg pas2an ini.  Ketika bis telah sampai di bakauhuni. Saya memilih untuk turun. Dan yg perlu kalian tau. Unga kami bertiga adalah 100ribu rupiah. Kami sempat menahan lapar. kami bahkan menahan rasa ingin tau terhadap setiap makanan yg ada di plaembang. kami anggap ini bukan piknik. Tapi panggilan batiniah dari persib untuk kami. Kami tidak pernah pikir panjang apa yg akan terjadi dengan uang kami yg sedikit ini. Kami memilih turun di pelabuhan bakauhuni dan tidak menyebrang ke pelabuhan merak. Kami bukan org yg memaksakan akan keadaan itu. Tapi entah kenapa. Perasaan kami hanya tertuju pada persib waktu itu. Kami mengkoordinasi pada tutor kami untuk dapat turun di bakauhuni. Ternyata kebetulan diapun (kukuh) dan teman2nya memilih untuk kembali ke palembang lagi walaupun harus berjam2 dengan uang seadanya menuju palembang. Dan bagi kami itu bukan halangan besar. Bagi kami. Asalkan kami mampu berteriak keras. Mengungkapkan apa yg ada di dalam hati dengan dukungan ini. kami rasa itu cukup membuktikan kecintaan kami. Kami memilih memakai travel mwnuju ke statsiun yg ada di bandar lampung .kami tidak pernah memikirkan bagaimana kami nyaman untuk tidur dimana kami akan berteduh. Waktu itu malam hari bahkan tengah malam kami memesan tiket. Dan akan berangkat keesokan harinya. Kami tidur di emperan. Saya tidur depan wc umum. Dilantai. Didepan swalayan. Waktu itu ada kawan2 viking lampung meminta kami beristirahat di tempatnya. Tetapi berhubung kami 10 org lebih. Kami memilih tidur di lantai swalayan. Kami tidak pernah berdoa yang lain. Selain berdoa akan kemenangan persib bdg lusa itu. Kami bisa merasakan apa arti kebersamaan disana. Arti sebuah pengorbanan. Dukungan yg tulus. Cinta yg kami berikan. Bukan hanya sekedar dukungan biasa.
Keesokan harinya. Kami siap naik kreta bahkan satu hari satu malam kami disana… (bersambung)

gambar doang

gambar doang